BIJANTA: Ketika Kesehatan Jiwa Tak Lagi Disembunyikan

BIJANTA: Ketika Kesehatan Jiwa Tak Lagi Disembunyikan
Bacakan Artikel

Jalurdua.com Ada pasien yang tidak pernah datang ke fasilitas kesehatan. Bukan karena tidak membutuhkan pengobatan, tetapi karena keberadaannya sengaja disembunyikan. Rasa malu, stigma, dan anggapan bahwa gangguan jiwa adalah aib membuat sebagian keluarga memilih menutup rapat kondisi anggota keluarganya.

Di Kabupaten Bulukumba, persoalan itulah yang coba dijawab melalui BIJANTA (Bulukumba Integrasi Kesehatan Jiwa Terpadu). Inovasi yang dikembangkan sejak 2022 ini membawa satu gagasan sederhana: ODGJ bukan orang lain. Mereka adalah bagian dari keluarga dan masyarakat yang memiliki hak untuk mendapatkan pengobatan, perhatian, pendampingan, dan kehidupan yang bermartabat.

Menemukan Mereka yang Tersembunyi

BIJANTA tidak berhenti pada pelayanan di fasilitas kesehatan. Pemerintah daerah bersama tenaga kesehatan, pemerintah desa, keluarga, instansi, dan masyarakat bergerak untuk menemukan pasien yang selama ini belum tersentuh layanan. Dalam proses tersebut, ditemukan ODGJ yang belum mendapatkan pengobatan secara optimal, bahkan ada yang mengalami pemasungan.

Pendekatan yang dilakukan pun tidak sekadar membawa pasien ke fasilitas kesehatan. Keluarga diajak berbicara dan diberikan pemahaman bahwa gangguan jiwa merupakan persoalan kesehatan yang membutuhkan penanganan, bukan sesuatu yang harus disembunyikan.

Dari sana, BIJANTA bergerak melalui proses yang sederhana tetapi penting: menemukan, menjangkau, mengobati, mendampingi, dan membantu pasien kembali ke lingkungan sosialnya.

Tidak Menunggu Sampai Gangguan Menjadi Berat

Seiring berjalan, BIJANTA berkembang. Pelayanan kesehatan jiwa tidak lagi hanya berfokus pada pasien dengan gangguan berat, tetapi juga pada upaya menemukan masalah kesehatan jiwa sedini mungkin.

Melalui ASMARA DIJIWA, deteksi kesehatan jiwa diperluas ke berbagai lingkungan, mulai dari instansi, sekolah, lembaga pemasyarakatan, hingga masyarakat.

Persoalan seperti tekanan berat, stres, depresi, dan masalah psikologis lainnya diupayakan dapat dikenali lebih awal sehingga masyarakat dapat diarahkan untuk mendapatkan bantuan.

Pendekatan serupa juga masuk ke lingkungan pendidikan melalui SEJIWA di sekolah dan Kampus Sehat Jiwa di perguruan tinggi.

Dengan demikian, kesehatan jiwa tidak hanya dibicarakan ketika seseorang sudah berada dalam kondisi berat. Edukasi, pencegahan, deteksi dini, dan akses terhadap pertolongan menjadi bagian dari upaya yang dibangun sejak awal.

Karena Pemulihan Tidak Hanya Soal Obat

Dalam perjalanan seorang pasien, pengobatan hanyalah salah satu bagian.

Ada keluarga yang harus belajar memahami kondisi anggota keluarganya. Ada pasien yang membutuhkan dukungan agar rutin menjalani pengobatan. Ada pula lingkungan sosial yang perlu belajar menerima dan tidak memberikan stigma.

Karena itu, BIJANTA menempatkan keluarga sebagai salah satu kekuatan penting dalam proses pemulihan.

Sekitar 70 persen pasien ODGJ disebut telah terlayani dengan baik, meskipun data spesifik mengenai tingkat kesembuhan belum tersedia. Namun, angka bukan satu-satunya cerita.

Ada pasien yang sebelumnya tersembunyi kemudian ditemukan. Ada keluarga yang mulai terbuka. Ada mereka yang akhirnya memperoleh pengobatan dan pendampingan. Dan ada pasien yang kembali memiliki ruang untuk menjalani kehidupan di tengah masyarakat.

Dua Ruang Pengabdian

Di balik pengembangan BIJANTA terdapat Arhan, S.Kep., Ns., M.Kep., Penanggung Jawab Kesehatan Jiwa dan Napza Dinas Kesehatan Kabupaten Bulukumba.

Sebagai ASN dan tenaga kesehatan, ia menjalankan tanggung jawab profesional untuk memperkuat pelayanan kesehatan jiwa dan penanganan persoalan Napza. Ia juga terlibat dalam penguatan kapasitas dan jejaring pelayanan bagi korban penyalahgunaan zat adiktif.

Namun, pengabdiannya tidak berhenti pada ruang profesi. Arhan juga aktif sebagai dai dalam kegiatan pembinaan umat dan kader Wahdah Islamiyah. Dua peran tersebut berjalan dalam ruang yang berbeda, tetapi bertemu pada satu nilai: kepedulian terhadap manusia. Ilmu dan profesi menjadi jalan pengabdian di bidang kesehatan. Dakwah menjadi ruang untuk membina dan menguatkan masyarakat.

Dalam konteks BIJANTA, nilai kemanusiaan itu diterjemahkan dalam bentuk yang sangat nyata: memastikan mereka yang mengalami persoalan kesehatan jiwa tidak ditinggalkan.

Ketika Kolaborasi Menjadi Kunci

BIJANTA bukan pekerjaan satu orang. Pemerintah kabupaten dan desa, tenaga kesehatan, sekolah, perguruan tinggi, instansi, lembaga pemasyarakatan, keluarga, serta masyarakat memiliki peran dalam membangun layanan kesehatan jiwa yang lebih terintegrasi.

Kolaborasi tersebut membuat pelayanan bergerak lebih luas: dari edukasi dan pencegahan, deteksi dini, pengobatan, hingga pendampingan dan pemulihan.

Teknologi dapat membantu memperluas jangkauan layanan dan mempercepat proses deteksi. Tetapi di balik semua itu, tetap ada satu hal yang tidak dapat digantikan: kepedulian manusia kepada manusia lainnya.

Dari Bulukumba ke Ruang yang Lebih Luas

Perjalanan BIJANTA kemudian mendapatkan berbagai pengakuan.

Pada 2025, inovasi ini memperoleh penghargaan sebagai inovator kesehatan jiwa dan Napza tingkat provinsi serta pengakuan terkait kelancaran pengurusan pasien gangguan jiwa yang dirujuk ke RS Dadi.

BIJANTA bersama inovasi kesehatan jiwa yang dikembangkan melalui ASMARA DIJIWA juga diperkenalkan dalam ruang inovasi yang lebih luas, termasuk dokumentasi dan ajang yang berkaitan dengan OECD-OPSI dan Guangzhou Award.

Pada 2026, BIJANTA kembali mencatat capaian melalui penghargaan Gold pada kriteria Gender Equality and Social Inclusion (GEDSI) dalam InTechSEA 2026 Innovation Technology for Social & Environmental Awards dengan tema “Collaborative Innovation for a Sustainable and Inclusive Future.”

Pengakuan tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah persoalan yang berangkat dari tingkat lokal dapat dikembangkan menjadi inovasi pelayanan publik berbasis kolaborasi dan inklusi.

Namun, penghargaan bukanlah akhir dari perjalanan. Sebab inti BIJANTA justru ada pada mereka yang sebelumnya tidak terlihat.

Pasien yang dahulu disembunyikan, kini ditemukan dan dilayani. Keluarga yang dulu merasa malu, perlahan belajar memahami. Mereka yang pernah kehilangan akses terhadap pengobatan, kembali mendapatkan pendampingan. Dan mereka yang membutuhkan bantuan kesehatan jiwa diupayakan dapat ditemukan lebih awal.

Laporan: Arni Susanti Salmi
Editor: Rika Arlianti  DM

Artikel ini dipublikasikan ulang secara utuh melalui program kemitraan media dengan intens.id. Seluruh isi materi, data, dan sudut pandang editorial sepenuhnya merupakan tanggung jawab redaksi penerbit asli.