Hilirisasi Teknologi Kampus, Tim PKM Universitas Fajar Bangun Purifikasi Air dan Berdayakan Warga Desa Barania
JALURDUA - Klikhijau.com - Krisis lingkungan di tingkat tapak sering kali berakar dari ketimpangan akses terhadap teknologi tepat guna dan pengelolaan sumber daya yang adil. Di wilayah pegunungan atau dataran tinggi, kelimpahan komoditas pertanian dan keindahan lanskap alam tidak serta-merta menjamin kesejahteraan ekonomi warga maupun kelestarian ekosistem irigasi yang bersih dari polutan.
Ketidakseimbangan relasi antara pusat pengetahuan di perkotaan dan wilayah rural kerap memosisikan masyarakat desa sekadar sebagai penonton pertumbuhan kawasan. Ketika ruang hidup warga terhambat oleh keterbatasan infrastruktur penyaringan air dan pengolahan bahan lokal, kedaulatan ekologis masyarakat dipertaruhkan.
Realitas inilah yang melandasi pentingnya intervensi pengetahuan yang tidak berjarak dari kebutuhan nyata tapak, sebagaimana yang tengah diupayakan di kawasan hulu Sinjai Barat.
Upaya penguatan kemandirian ekonomi desa berbasis potensi lokal kembali digerakkan oleh kalangan akademisi. Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Fajar (UNIFA) resmi memulai program PKM Mahasiswa Berdampak, Program Aksara Mahasiswa melalui sosialisasi dan pelatihan terpadu bagi warga Desa Barania, Kecamatan Sinjai Barat, Kabupaten Sinjai, pada Minggu (25/10/2026). Kegiatan yang terselenggara melalui dukungan Kemendiktisaintek RI.
Siasat Bioteknologi di Aliran Irigasi Barania
Desa Barania yang terletak pada ketinggian sejuk 1.000 meter di atas permukaan laut menyimpan daya dukung ekologis yang melimpah sekaligus rentan. Aliran air irigasi yang mengaliri petak-petak sawah dan perkebunan warga menjadi urat nadi utama keberlangsungan hidup komunitas.
Namun, menjaga kebersihan dan mutu air dari cemaran alamiah maupun sisa aktivitas budi daya memerlukan pendekatan teknis yang selaras dengan daya dukung alam. Kehadiran teknologi purifikasi berbasis bioteknologi spons laut yang diberi nama SI-BARANI hadir sebagai langkah awal untuk mengurai persoalan kualitas air irigasi tersebut.
Penyaringan yang mengandalkan mikroorganisme spons laut diharapkan mampu memulihkan baku mutu air tanpa merusak keseimbangan biota lokal, sehingga lahan pertanian mendapatkan pasokan nutrisi yang jernih dan aman.
Langkah perekayasaan teknologi ini bukan sekadar urusan mekanis instalasi perpipaan atau penyaringan cair, melainkan upaya mengembalikan hak masyarakat atas lingkungan hidup yang bersih dan sehat.
Ketersediaan air bersih untuk irigasi berdampak langsung pada ketahanan pangan dan kualitas komoditas panen yang dihasilkan warga. Ketika mutu air irigasi terjaga, stabilitas ekosistem pertanian di kawasan perbukitan ini dapat dipertahankan secara berkelanjutan tanpa melampaui daya dukung lingkungannya.
"Fokus pendampingan kami terbagi ke dalam beberapa kegiatan utama, di antaranya pembangunan fasilitas purifikasi air irigasi pertanian menggunakan bioteknologi bakteri spons laut yang kami beri nama SI-BARANI. Selain itu, kami juga membekali masyarakat dengan pelatihan pengolahan material bambu sebagai alternatif bahan ramah lingkungan yang berkelanjutan, serta pelatihan pengemasan dan branding hasil panen agar komoditas lokal Barania mampu menembus segmentasi pasar yang lebih luas," tutur Faris Jumawan, Ketua Tim PKM Universitas Fajar.
Kedaulatan Material Lokal dan Penambahan Nilai Panen
Selain tantangan purifikasi air, ketergantungan pada material sintetis dan rantai pasok luar kawasan kerap mengurangi nilai tambah yang seharusnya dinikmati warga lokal. Bambu, sebagai vegetasi yang tumbuh subur di lanskap pegunungan Barania, memegang peranan kunci dalam menjaga stabilitas tanah dari risiko erosi sekaligus menjadi material terbarukan yang serbaguna.
Pemanfaatan bambu secara terstruktur melalui pelatihan pengolahan material ramah lingkungan membuka peluang baru bagi warga untuk mengelola aset vegetasi lokal tanpa mengganggu fungsi perlindungan kawasan lereng. Pengolahan bambu secara bijak mentransformasi tanaman ini menjadi komoditas bernilai guna tinggi yang mampu menyokong infrastruktur desa sekaligus menekan jejak karbon operasional warga.
Upaya memperkuat resiliensi komunitas Barania kemudian dilanjutkan dengan peningkatan kapasitas warga dalam pengemasan dan pencitraan merek (branding) komoditas panen.
Langkah ini menempatkan masyarakat petani Barania sebagai subjek aktif dalam mata rantai ekonomi, bukan sekadar pemasok bahan mentah dengan posisi tawar yang lemah di hadapan tengkulak. Penguatan kapasitas pengemasan memastikan hasil bumi bernilai tambah tersebut dapat dipasarkan secara mandiri dengan daya saing yang lebih baik.
Kehadiran akademisi dan mahasiswa yang mendampingi warga dalam kurun waktu kurasi tiga bulan sejak Oktober hingga Desember menjadi jembatan awal dalam mempertemukan sains terapan dan pengetahuan lokal warga.
Partisipasi aktif warga Barania dalam menyerap teknologi dan teknik pengolahan baru memperlihatkan bahwa kemandirian desa dapat diwujudkan ketika transfer pengetahuan dilakukan secara partisipatif dan menghargai ruang hidup masyarakat setempat.
"Kehadiran akademisi UNIFA di desa kami adalah wujud kolaborasi yang sangat dinantikan. Desa Barania sangat ramah dan terbuka bagi kampus-kampus yang ingin menempatkan program riset, PKM, dan perkuliahan lapangan di sini guna membantu warga menaikkan nilai tambah hasil buminya," ungkap Firman M. Maddolangeng, Kepala Desa Barania.
Keberhasilan Desa Barania menuju kawasan agrowisata yang mandiri dan berkelanjutan sangat bergantung pada konsistensi menjaga keseimbangan antara komersialisasi potensi desa dan kelestarian bentang alamnya. Destinasi alam unggulan mulai dari air terjun, puncak perbukitan, hingga rekreasi tengah sawah hanya akan bertahan jika ekosistem penyokongnya, seperti air irigasi yang jernih dan tutupan lahan yang stabil, tetap terawat.
Intervensi teknologi seperti purifikasi air dan pengolahan material bambu selayaknya diposisikan sebagai pemantik, bukan solusi tunggal yang menghentikan kebiasaan baik warga dalam menjaga alam.
Keberlanjutan Desa Barania bergantung pada sejauh mana masyarakat lokal memegang kendali penuh atas tata kelola ruang dan pemanfaatan sumber daya alaminya. Ketika bioteknologi ramah lingkungan terintegrasi secara harmonis dengan kearifan lokal dan dukungan kebijakan publik yang berpihak pada warga tapak, Desa Barania tidak hanya menjadi objek destinasi rekreasi, tetapi juga benteng ketahanan ekologis yang tangguh di dataran tinggi Sulawesi Selatan.