News and Education Versi penuh
EBis

OJK Sebut Investor Saham Bertambah 1,38 Juta saat IHSG Anjlok 16,7%

Oleh Redaksi 05 Nov 2026 15:02 2 menit baca

JALURDUA -

EmitenTrust.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah investor pasar modal Indonesia mencapai 33,55 juta pada Oktober 2026. Angka tersebut bertambah 1,38 juta investor dalam satu bulan, meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan dan terkoreksi 16,7%. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan pertumbuhan jumlah investor tersebut menunjukkan tren peningkatan minat masyarakat terhadap pasar modal masih berlanjut. "Dari sisi permintaan, jumlah investor di pasar modal melanjutkan tren peningkatan sejalan dengan inisiatif pendalaman pasar dan juga penguatan ekosistem digital di industri pasar modal," kata Hasan dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Oktober 2026 secara daring di Jakarta, Kamis. Secara tahun berjalan atau year-to-date (ytd), jumlah investor pasar modal tumbuh 64,75%. Sebagai perbandingan, pada September 2026 jumlah investor tercatat sebanyak 32,17 juta setelah bertambah sekitar 1,03 juta dalam sebulan. Dengan demikian, penambahan investor pada Oktober lebih tinggi sekitar 350 ribu dibandingkan bulan sebelumnya. Pertumbuhan investor juga diikuti dengan persebaran yang semakin luas di luar Pulau Jawa. Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 23 Oktober 2026, porsi investor di Pulau Jawa turun dari 64,43% pada September menjadi 62,16%. Sebaliknya, porsi investor di Sumatera meningkat dari 19,61% menjadi 20,94%. Sementara itu, Kalimantan naik dari 5,57% menjadi 5,95% pada periode yang sama. KSEI juga mencatat jumlah investor reksa dana mencapai 32,19 juta single investor identification (SID) per 29 Oktober 2026. Jumlah tersebut meningkat sekitar 68% dibandingkan 19,19 juta SID pada akhir 2025. Dari sisi aktivitas perdagangan, rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) saham meningkat menjadi Rp16,31 triliun pada Oktober 2026, dibandingkan Rp14,94 triliun pada September. Namun, peningkatan jumlah investor dan aktivitas transaksi tersebut berlangsung di tengah tekanan pasar saham. IHSG terkoreksi dari 6.071,14 pada akhir September menjadi 5.057,05 pada akhir Oktober 2026. OJK menilai ketidakpastian global dan perubahan persepsi risiko investor turut memengaruhi pergerakan pasar domestik. Selain itu, pengumuman MSCI pada 15 Oktober 2026 mengenai konsultasi usulan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi dinamika pasar modal. Merespons perkembangan tersebut, OJK terus mendorong Bursa Efek Indonesia (BEI) memperkuat transparansi kepemilikan saham, meningkatkan kualitas saham beredar di publik atau free float, serta memperkuat pengawasan perdagangan. "Agenda-agenda percepatan reformasi integritas pasar modal juga terus kita akselerasi dan diperkuat efektivitasnya, termasuk melalui penguatan transparansi, penegakan hukum, dan strategi komunikasi publik yang lebih luas," ujar Hasan.