Palappa’, Peremajaan Kopi yang Abadi

Palappa’, Peremajaan Kopi yang Abadi
Bacakan Artikel

Jalurdua.com ‎‎Klikhijau.com - ”Palappai!” Seru Ayah setengah berteriak. Jaraknya lumayan jauh. Namun, sepertinya ia memerhatikan saya kesulitan menarik batang kopi yang seukuran lengan orang dewasa itu.

Saya patuhi perintahnya. Tanpa menunggu perintah selanjutnya, saya menarik parang dari sarungnya. Lalu saya "memarangi" batang kopi itu. Tidak sampai putus,  setengahnya saja. Dan sebuah luka yang akan memberi napas panjang pun terbentuk.

‎Setelahnya,  saya kembali memasang pakkai (pengait) untuk menariknya. Awalnya masih terasa sangat kuat. Namun, dengan mengerahkan tenaga sepenuh-penuhnya. Batang kopi itu perlahan takluk. Mengeluarkan suara letupan dari batangnya yang telah saya parangi separuhnya itu.

Jika saja belum diparangi, tentu akan membuat kaget. Karena pasti batang itu akan disangka sappe (patah). ‎‎

Karena saat batang ditarik ada letupan, istilah ini pun dikenal pula dengan nama palappo’ (meletuskan/meletupkan). Sebuah metode pembaharuan atau pemotongan batang kopi. Tujuannya mulia, yang istilah kerennya adalah rejuvenasi (peremajaan).

‎‎Di desa Kindang, teknik ini umum dilakukan, bukan hanya untuk menarik batang kopi yang kuat, agar lebih mudah nidoddo untuk dipetik (puppulu), tetapi juga untuk melahirkan tunas baru pada pohon kopi.

‎‎Batang kopi yang telah dipalappa’, secara otomatis akan mengeluarkan tunas baru.  Jadinya, petani tidak perlu menanam lagi pohon kopi baru untuk mendapatkan kopi yang lebih muda dan lebih sehat untuk berbuah.

‎‎Palappa’ merupakan teknik  pangkas rejuvenasi belah  atau rejuvenasi rebah. Cara ini juga sering juga disebut stumping tidak total atau sistem pangkas rebah. Di Desa Kindang, ada tiga istilah metode ini, dua telah disebutkan, yakni palappa’ dan palappo’. Palappa’ bisa diartikan merundukkan.

‎‎Istilah ketiga adalah padope'. Dari kata dope' yang bisa diartikan rebah atau melengkung—tidak terpisah dari batangnya. Sementara dua huruf P dan A (PA) adalah penegasan untuk aktivitas melakukan, jadi, palappa', palappo, dan padope' berarti melakukan teknik rejuvenasi rebah.

‎‎Cara ini telah turun temurun dilakukan petani di Desa Kindang dan sekitarnya untuk mendapatkan pohon kopi yang lebih "remaja". Menggantikan batang kopi yang telah uzur dipeluki usia.

‎‎Dengan palappa’ pula, petani tetap mampu menjaga pohon kopinya terus berproduksi. Tanpa perlu menggantinya dengan menanam yang baru. Karenanya, jangan heran jika mendapati batang utama kopi berukuran lumayan besar.

Desa Kindang adalah sebuah desa yang dihuni dua jenis kopi yang dominan, robusta dan arabika. Metode palappa’ diberlakukan pada dua jenis kopi tersebut. Namun, segala sesuatu selalu ada pengecualian, begitu pun pada dua jenis kopi itu, yakni kopi yang dibollo atau dipangkas pucuknya sehingga hanya satu batang saja dibiarkan tumbuh.

‎‎‎Peremajaan kopi dengan teknik bollo hanya terjadi pada tangkainya atau rantingnya. Selama kopi tak dibollo, maka rasanya akan wajib melakukan metode palappa’. Jadi, selama ada yang kopi yang tidak dipangkas pucuk, maka metode palappa’ untuk meregenerasi pohon kopi akan tetap abadi alias tetap ada.

‎Batang kopi yang telah dipalappa, biasanya pada musim panen berikutnya (setahun kemudian) akan ditebang putus. Agar ruang hidup cu'la atau tunas baru lebih luas. Ini sebuah cara memberi ruang dan kemandirian bagi generasi selanjutnya.

‎‎Apakah batang yang telah dipalappa’ lantas semua ditebang putus panen berikutnya? Jawabannya tidak, tetap dilihat apakan potensi berbuahnya masih ada atau tidak, dan apakah tunas baru sudah siap menanggung tanggung jawab untuk berbuah atau tidak.

‎‎Melihat tujuan dari palappa’, ada banyak pelajaran yang bisa dipetik, tanggung jawab sebaiknya tidak diberikan kepada yang belum siap. Bagi generasi tua, harus menyiapkan generasi pelanjut, meski harus mengorbankan dirinya sendiri. Untuk memastikan estafet kehidupan dan kebermanfaatan terus melaju, tetap berlanjut.

‎‎Bagaimana sistemnya bekerja?

‎‎Palappa’ dilakukan dengan cara sederhana, batang utama dipotong—bisa miring bisa lurus sekitar setengah hingga tiga perempat bagian saja, lalu batang atau tajuknya dilengkungkan atau direbahkan tanpa diputus total.

‎‎Kenapa harus dilakukan, ini cara untuk menstimulasi tunas baru. Luka pada potongan tersebut merangsang keluarnya tunas-tunas air (tunas ortotrop) baru yang lebih segar dan produktif dari bagian bawah batang.

‎‎Cara ini pula akan tetap menjaga suplai nutrisi, karena batang lama tidak dipotong habis (masih menyambung lewat kulit atau sebagian kayu), pohon tua masih bisa terus melakukan fotosintesis dan menyalurkan nutrisi ke sistem perakaran sementara tunas baru tumbuh.

‎Melalui metode ini, petani menjaga risiko kematian pohon kopinya. Teknik ini jauh lebih aman dibandingkan stumping atau pangkas total di dasar yang kadang membuat tanaman stres berat atau mati jika perakaran kurang kuat.

‎‎Setelah dipotong dan direbahkan, petani akan membiarkan tunas-tunas baru tumbuh di sekitar tunggul bawah. ‎‎Nanti disortir dan dipelihara 1–2 tunas terbaik yang paling sehat untuk menjaga harapan petani untuk tetap bisa panen.

‎‎ Cara ini ‎‎terbukti jitu untuk tetap mempertahankan pohon kopi yang telah ada. Jadinya, pohon kopi mampu bertahan melintasi waktu hingga puluhan tahun. Sebab ada regenerasi yang terus berulang setiap tahunnya.

‎‎Jika kawan berkunjung ke Desa Kindang dan mendapati pohon kopi yang telah dipalappa’, itu bukan bencana, itu adalah cara menyambung napas kehidupan pohon kopi dan para penikmat kopi.