News and Education Versi penuh
Edukasi

Resmi Pimpin FMI Sulsel, Moel Yanti Bawa Misi Profesionalitas Pegiat Alam Bebas

Oleh Redaksi 19 Oct 2026 11:54 2 menit baca

Jalurdua.com Klikhijau.com - Federasi Mountaineering Indonesia (FMI) Pengurus Daerah Sulawesi Selatan menetapkan kepemimpinan baru dalam Musyawarah Provinsi (Musprov) V yang berlangsung di kawasan Malino, Kabupaten Gowa, Sabtu (18/10/2026). Forum musyawarah organisasi pengampu kegiatan penjelajahan alam bebas ini memilih Moel Yanti sebagai Ketua FMI Sulsel periode mendatang.

Terpilihnya Moel Yanti menandai babak baru bagi FMI Sulsel usai sempat mengalami kendala operasional dan kefakuman sejumlah agenda organisasi. Dalam pidato perdananya, Moel Yanti menekankan penguatan keterampilam keilmuan, keselamatan, serta kelestarian ekosistem pegunungan di Sulawesi Selatan.

"Keinginan saya adalah memasyarakatkan dan mewujudkan aktivitas mountaineering Indonesia yang profesional, terkhusus di Sulawesi Selatan. Gunung bukan hanya untuk didaki, tapi untuk dijaga, dipelajari, dan memberi manfaat profesional bagi masyarakat," kata Moel Yanti di hadapan peserta musyawarah.

Pernyataan tersebut merespons tantangan nyata pengelolaan kawasan pegunungan di Sulawesi Selatan. Wilayah ini menyimpan deretan destinasi pendakian populer seperti Gunung Latimojong (3.478 mdpl) sebagai salah satu Seven Summits Indonesia, Gunung Bawakaraeng (2.830 mdpl), Gunung Lompobattang (2.874 mdpl), hingga kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

Di sisi lain, tingginya animo kegiatan aktivitas luar ruang di kawasan tersebut dibayangi persoalan tumpukan sampah plastik di jalur pendakian, risiko keselamatan pendaki tanpa standar perlengkapan memadai, hingga minimnya sertifikasi kepemanduan.

Sebelum proses pemilihan berlangsung, Demisioner Ketua FPTI dua periode yang juga tokoh pengurus FMI Sulsel, Muh. Idris Pallogi alias Lilo, menyampaikan latar belakang keterlambatan konsolidasi organisasi sebelumnya. Lilo menjelaskan bahwa kesibukan penugasan kerja di kawasan timur Indonesia sempat menghambat arus informasi dan koordinasi internal.

"Saya mohon maaf sebesar-besarnya karena beberapa agenda pengurus sempat fakum. Ini karena kesibukan kerja dan saya berada di lokasi pengembangan daerah terpencil di timur Indonesia, sehingga informasi tidak tersampaikan dengan baik. Hari megenai momentum ini kita harus punya semangat yang kuat untuk perkembangan FMI Sulsel ke depan," ujar Lilo.

Sebagai federasi yang menaungi kegiatan pendakian gunung, konservasi lingkungan, ekowisata, olahraga petualangan, hingga ekspedisi sejak dideklarasikan pada 28 Agustus 2005, FMI Sulsel menargetkan percepatan sertifikasi kompetensi dan penguatan kemitraan lembaga.

Guna mewujudkan standar keselamatan dan tata kelola lingkungan yang terukur, kepengurusan baru FMI Sulsel akan menjalin kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan. Langkah ini melibatkan pemerintah daerah, Kementerian Pariwisata, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Kementerian Kehutanan (Kemenhut) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), hingga asosiasi internasional seperti International Climbing and Mountaineering Federation (UIAA).