Senandung Pattunuang, Menyapa Indru' yang Menyimpan Manfaat Ekologi
Jalurdua.com Klikhijau.com - Wisata Alam Pattunuang Biseang Labboro adalah destinasi wisata alam yang dikelola dibawah lingkup Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Pada hari Sabtu (03/10/2026) lalu. Saya bersama rombongan Tim KlikHijau tiba di Resort Pattunuang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Bukan kali pertama bagi saya mengunjungi tempat tersebut, sebelumnya pernah datang bersama keluarga berlibur, menikmati dan menghirup udara yang segar, jauh dari debu dan polusi perkotaan yang menyesaki ruang hirup.
Saat itu tempat yang kami kunjungi tidak jauh dari Resort Pattunuang, ketika mulai memasuki ruas jalan paving block menuju kawasan Wisata Alam Biseang Labboro, kami mangambil lajur kanan di persimpangam jalan setapak, menuju belakang rumah pertama warga yang ada di dalam wisata itu. Di situlah saya bersama keluarga menikmati dekapan teduh Pattunuang, dengan segala nyanyian alam termasuk kicauan burung penghuni hutan.
Lain halnya perjalanan kali ini, langkah kaki dan ayunana tangan lebih banyak dari perjalanan sebelumnya untuk tiba ke tanah lapang tempat kami mendirikan tenda.
Saya dan rombongan tim KlikHijau dipandu oleh Taufiq Ismail seorang Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) dari balai Taman Nasional Bulusaraung, berjalan kaki kurang lebih dua kilometer.
Bagiku perjalanan yang lumayan untuk ditempuh dengan berjalan kaki, sehingga di perjalanan beberapa dari kami, mengulang pertanyaan,apakah masih jauh?, kenapa belum sampai juga yah?.
Tak ingin berbohong, hal yang serupa juga saya rasakan. Namun, pertanyaan-pertanyaan itu seolah tak pernah kami tanyakan, seketika takjub, teralihkan ketika melihat pepohonan menjulang tinggi, berdampingan dengan tanaman lain, tempat hewan bermukim dan berinteraksi, tempat kupu-kupu beterbangan dengan berbagai macam warna dan ukuran yang memanjakan pandangan oleh keindahannya.
Air sungai mengalir diantara bebatuan, dengan suara khasnya, gemericik-berdesir mengimbangi gesekan ranting pohon hijau nan rindang yang memberikan suasana sejuk, kenikmatan yang tak bisa didapati di perkotaan dengan rerimbunan beton yang menginvasi dan mengorbankan pohon tanpa pengganti.
Tak perlu bergerak jauh lagi, kami bisa mengamati berbagai jenis pohon dan tanaman lainnya.
Namun, saya sedikit terkecoh dari awal berjalan hingga pertengahan perjalanan menyusuri pinggiran sungai Pattunuang, saya melihat beberapa kali pohon aren, tampak mencolok.
Perjumpaan Pertama dengan Indru’
Mata saya memandang liar, jauh ke seberang sungai kemabali ke pinggiran pengunungan kars, mengagumi sumber nira yang kerap saya dapati berupa produk gula berbentuk bulat, kotak bahkan ada yang sudah menjadi gula semut, yah apapun bentuknya, kami mengenalinya gula aren. Ini menjadi pengalaman pertama melihat bagaimana pohon aren turut berbaris diantara pohon yang lain. Sebelumnya hanya bisa saya lihat di layar Handphone atau Televisi.
Teman-teman lain keheranan menyaksikan tingkahku sedikit kegirangan, karena, sekali lahi jujur saja ini pengalaman baru, pertama kali melihat tanaman yang dalam bahasa ilmiah disebut Arenga Pinnata. Yang sejatinya dalam peta potensi aren di Sulsel, tumbuh hampir di semua kabupaten.
“Weh sekira (saya kira) di kampungmu banyak ji pembuat gula merah, kenapa barusannu liat pohon aren?,” tanya Ulfia sambil berjalan di depan saya, mengikuti pak Taufik, pemandu eksploring flora dan fauna pada kegiatan kali ini.
Sebagai mahasiswa yang berasal dari kabupaten Jenponto, ketika mendengar kata gula merah, atau mendengar pertanyaan gula merah terbuat dari apa?, saya lebih akrab atau mungin spontan menjawab dari pohon Lontar (Borassus flabellifer) atau Tala’ begitu orang Jeneponto menamainya,
Untuk memuaskan rasa penasaranku, saya menguntit pak Taufiq dengan berbagai pertaanyaan, mulai dari apakah tanaman aren termasuk spesies yang langka?.
“Tanaman ini termasuk spesies yang umum ditemukan di Sulawesi, terlebih lagi di daerah pinggiran sungai. banyak di pinggiran sungai yang dekat hutan,” pungkasnya, sambil tetap melangkah pelan, menuntun langkah mengamati hal-hal kecil yang seringkali kita abaikan karena terburu-buru.
Menelusuri berbagai literatur melaui gawai, saya juga menemukan rupanya, tanaman aren adalah salah satu jenis tanaman yang banyak tumbuh di Indonesia dan tersebar di berbagai wilayah nusantara, terutama di kawasan perbukitan dengan kondisi lingkunngan yang lembab.
Wilayah potensi utama Indru’ nama lokal dari aren di Sulsel, tersebar luas di beberapa daerah di Sulawesi Selatan, beberapa diantaranya kabupaten Sinjai, Barru, Enrekang, Bulukumba dan Menurut catatan ilmiah Musdalifah (2022), salah satu daerah yang banyak ditemukan aren adalah Kabupaten Maros yang berada di kecamatan Tompobulu, Cenrana dan Simbang.
Hal tersebut senada yang dikatakan oleh Taufiq, aren lebih bagus tumbuh jika tempatnya agak terbuka sehingga mendapatkan udara dan cahaya lebih banyak, Namun, bisa juga dibawah naungan, cenderung berada di daerah yang lembab.
“Oh dia cenderung lebih suka yang daerah lembab, makanya lebih banyak itu di sekitar pinggir sungai di sini,” tutur Taufiq, menegaskan daerah tumbuh aren.
Menyatu dengan Karst dan Lemba
Kondisi tanah yang cocok untuk aren adalah kondisi tanah yang cukup sarang atau bisa meneruskan kelebihan air, seperti tanah yang gembur, tanah vulkanis dilereng gunung, dan tanah yang berpasir di sekitar tepian sungai merupakan lahan yang ideal untuk pertumbuhan aren. Suhu lingkungan yang terbaik rata-rata 25 derajat celcius dengan curah hujan setiap tahun rata-rata 1.200 mm.
Hal itulah yang menjadi alasan mengapa saya tidak pernah melihat pohon aren di kampung saya di Jeneponto, karena Jeneponto adalah daerah yang kering dan panas.
Selain mampu tumbuh di daerah yang lembap, aren juga dapat bertahan pada dua musim. Menurut Taufiq, aren umumnya mulai berbunga dan berbuah pada musim kemarau. Kemampuan tersebut menjadi salah satu bentuk daya adaptasi aren terhadap lingkungannya.
Sepanjang perjalanan, mulai melangkahkan kaki masuk ke wilayah wisata alam Biseang Labboro ini, saya melihat pohon aren dari berbagai ukuran, ada yang masih kecil di bawah naungan pohon dao dalam bahasa ilmiah bernama lengkap Dracontomelon dao spesies tumbuhan berkayu dari famili anacardiaceae, di seberang sungai berukuran sedang, juga di pinggiran karst ada yang sudah berbunga. Pohon aren adalah jenis tanaman yang termasuk dalam suku palem-paleman (familia Arecaceae) dan dikenal sebagai tanaman serbaguna khas daerah tropis.
Jika masuk ke dalam jenis palem, kita tentu tahu batangnya tidak bercabang, berbentuk silinder lurus tingginya bisa 15 sampai 20 meter dengan diameter kurang lebih 40-50 cm. Ia memiliki batang yang unik lantaran permukaannya tidak mulus, ditutupi rapat dengan serat ijuk hitam yang sangat kuat.
Tepat di depan tempat kami membangun tenda, terdapat dua pohon aren. Saya berdiri di sekitar sambil melihat sekeliling, memandangi pohon yang baru saya jumpai secara langsung itu, daunnya mirip daun kelapa, majemuk menyirip yang ukurannya besar dan panjang, sekitar 2 meter panjangnya, disisi atas warnanya hijau tua mengkilap, sedangkan sisi bawahnya berwarna keputihan. Ujung anak daunnya berbentuk rompong atau seperti terpotong.
Aren memiliki bunga yang bersifat monokarpik atau hanya berbunga sekali dimasa hidupnya, bunganya terdapat dua jenis, bunga jantan dan betina yang berada dalam satu pohon tapi tongkolnya terpisah. Bunga aren bentuknya seperti untaian panjang seperti rantai yang menggantung. Bunga jantan menghasilkan nira, sedangkan bunga betina yang nantinya akan berkembang menjadi buah. Oh iya, sari dari nira juga menjadi sumber penghidupan bagi lebah juga kupu-kupu.
Di kawasan itu saya tidak melihat dan menemukan buahnya secara langsung, Namun, umumnya buah aren berbentuk bulat atau lonjong, dengan diameter sekitar 2-4 cm. Tumbuhnya berdompol dalam untaian yang sangat lebat. Saat masih muda buahnya berwarna hijau, tapi saat matang warnanya berubah jadi kuning kecoklatan. Di dalam buahnya terdapat 2-3 butir biji inti, biasanya diolah jadi kolang kaling.
Bukan hanya hiasan hutan
Di wilayah wisata Pattunuang Biseang Labboro ini, saya mengamati ciri akar pohon aren jenis serabut yang kuat, tebal, padat dan menghujam dalam ke dalam tanah. Karena akar yang sangat mencengkram itu pohon aren sangat baik fungsinya untuk mencegah erosi tanah.
Tak hanya bermanfaat pada tanah, warga juga memanfaatkan pohon aren dengan menyadap niranya. Menurut penjelasan Taufiq pemanfaatan tersebut tidak menjadi masalah karena aren termasuk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang dapat dimanfaatkan masyarakat, yang pemanfaatannya tetap harus dilakukan secara bijak, terurama dengan tidak menebang pohonnya agar keberadaan dan populasi aren tetap terjaga.
Meski populasinya tidak banyak mengalami ancaman, aren yang masih berukuran kecil di sekitar sungai tetap rentan ketika terjadi banjir. Arus air dapat membawa tanaman yang masih muda, sedangkan aren yang sudah tua cenderung lebih mampu bertahan.
Di kawasan Pattunuang, keberadaannya justru cenderung meningkat. Menurut Taufiq, belum banyak ancaman yang menyebabkan populasinya menurun. Warga yang memanfaatkan aren juga hanya mengambil niranya tanpa menebang pohonnya.
Untuk menjaga keberadaannya, Taufiq menyebut salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menanam kembali biji atau buah aren. Upaya tersebut dapat membantu menjaga keberadaan aren agar tetap tumbuh dan berkembang di kawasan tersebut.
Aren mungkin dianggap tumbuhan biasa di kawasan hutan Pattunuang, tak ada yang istimewa, tetapi keberadaannya menyimpan peran penting. Dari menjaga tanah hingga menghasilkan nira, tumbuhan ini menunjukkan bahwa apa yang tumbuh di dalam hutan tidak sekedar menjadi penghias alam.
Pemanfaatan pun perlu diiringi dengan menjaga keberadaannya. Karena, ketika pohon-pohon ini tetap tumbuh, manfaatnya bagi alam dan masyrakat juga dapat terus dirasakan.