Ketika Cerita Lama Mencari Pembaca Baru

Ketika Cerita Lama Mencari Pembaca Baru
Bacakan Artikel

UNESCO menempatkan tradisi lisan sebagai sarana meneruskan pengetahuan, nilai sosial-budaya, dan ingatan kolektif. Karena diwariskan melalui penuturan, tradisi tidak sepenuhnya statis. Ia dapat berubah menurut penutur dan konteks. UNESCO karena itu memandang warisan budaya takbenda sebagai living heritage—sesuatu yang terus hidup dan diciptakan kembali ketika berpindah antargenerasi.

Koko merumuskannya lebih sederhana: “Cerita rakyat merupakan wahana untuk mengingatkan kembali kenangan masa lalu yang selama ini terlupakan.”

Di dalamnya tersimpan pandangan tentang alam, keluarga, kekuasaan, keberanian, dan batas baik-buruk. Ketika rantai pewarisan terputus, yang hilang bukan hanya alur cerita, tetapi juga salah satu cara masyarakat meneruskan ingatan tentang dirinya.

Tidak Harus Dibekukan

Generasi yang menerima warisan itu kini hidup dalam dunia berbeda, ketika cerita rakyat harus bersaing dengan film, video pendek, gim, media sosial, dan jutaan bentuk cerita lain.

Karena itu, pertanyaannya bukan sekadar mengapa anak muda semakin jarang mengenal folklor, melainkan apakah cerita lama masih memiliki sesuatu untuk dikatakan kepada mereka.

UNESCO tidak memandang pelestarian warisan budaya takbenda sebagai upaya membekukan bentuk masa lalu. Yang dijaga adalah keberlangsungannya sebagai proses hidup dan transmisi. Dalam kerangka itu, mengubah cerita rakyat menjadi cerpen tidak otomatis berarti menjauhi tradisi. Bisa jadi, perubahan bentuk justru menjadi cara agar tradisi tetap hidup.

Itulah yang dicoba dalam lokakarya ini. Peserta dibekali teknik penulisan cerpen berbasis folklor Sumatera Utara, lalu dilatih menggali nilai lokal untuk diadaptasi menjadi karya bagi pembaca masa kini.

Koko melihat Sumatera Utara memiliki kekayaan cerita dari berbagai kelompok etnis. “Sumatera Utara memiliki sangat banyak cerita rakyat yang bervariasi,” katanya. Ia menyebut antara lain Merak Jingga, Palu Hantu, dan Panglima Berbulu Besi. Dalam adaptasi, unsur dasar identitas cerita asal tetap perlu diperhatikan.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: