Ketika Cerita Lama Mencari Pembaca Baru

Ketika Cerita Lama Mencari Pembaca Baru
Bacakan Artikel

Di situlah proses kreatif menjadi menarik: penulis tidak hanya bertanya apa yang harus dipertahankan, tetapi juga apa yang harus diubah agar cerita itu kembali berbicara.

Cerita Lama, Nilai Baru

Folklor juga memiliki kemungkinan lain: menjadi sumber daya kreatif yang bernilai ekonomi. Cerita dan mitologi lama dapat diolah menjadi novel dan komik, lalu berpindah ke film atau serial televisi; dapat pula menjadi animasi, gim, web series, hingga berbagai bentuk konten digital.

China memberi contoh spektakuler. Ne Zha 2, yang menghidupkan kembali tokoh mitologis China dalam bahasa animasi modern, meraup sekitar US$2,19 miliar secara global, termasuk sekitar US$2,13 miliar di pasar China.

Di Amerika Serikat, Beauty and the Beast versi 2017, yang berakar pada dongeng Eropa, menghasilkan sekitar US$1,27 miliar di seluruh dunia.

Penelitian National Bureau of Economic Research terhadap ribuan film dan katalog mitos, legenda, serta cerita rakyat menemukan bahwa film yang lebih dekat dengan folklor lokal cenderung lebih mungkin ditayangkan dan memperoleh pendapatan lebih tinggi di pasar tersebut.

Dengan kata lain, folklor bukan hanya warisan yang perlu diselamatkan. Ia juga dapat menjadi bahan baku industri kreatif. Tetapi ketika cerita sebuah komunitas berubah menjadi komoditas, muncul pertanyaan: siapa yang memperoleh manfaat dan siapa yang memiliki kendali atas pengolahannya?

Sumut Kaya, Harus Terus Diceritakan

Sumatera Utara memiliki tradisi lisan dari beragam komunitas budaya. Basis data Badan Bahasa mencatat berbagai sastra lisan dari wilayah ini, termasuk Dampol Siburuk dari masyarakat Batak Toba.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: