Kisah Fitria Wulansari, Kembangkan “Kebun Tetangga” dari Rumah

Kisah Fitria Wulansari, Kembangkan “Kebun Tetangga” dari Rumah
Bacakan Artikel

Sebagai contoh, ia mengompos sendiri dengan memanfaatkan bahan organik di rumahnya. Media pengomposan yang digunakan bervariasi antara lain ember tumpuk, rumah kompos, hingga lubang kompos.

Selain menanam aneka sayur-sayuran khas tropis, Ia menanam tanaman yang mudah tumbuh seperti bunga telang dan rosela. Semuanya ditanam alami tanpa penggunaan festisida kimiawi.

Kebutuhan bahan organik didapatkan dengan bermitra dengan peternak kambing di sekitaran Kabupaten Gowa. Kohe kambing sangat baik untuk campuran kompos penunjang nutrisi tanaman. Semua didapatkan dengan sistem barter.

 “Kami tidak punya ternak, tapi kami punya pakan. Jadi kami saling bertukar,” ujar Mbak Wulan.

Selama bergiat di Kebun Tetangga, Mbak Wulan memang sudah berhasil mengurangi timbulan sampah ke TPA. Ia memilah dan memaksimalkan pemanfaatan sampah organik secara mandiri. 

Selain mengompos, sisa sampah dari dapurnua juga dimanfaatkan untuk ternak. “Waktu di Samata, kami punya peliharaan anjing dan ayam. Kami juga sempat bermitra dengan pihak tertentu untuk pemanfaatan sisa-sisa buah busuk untuk difermentasi sebagai pakan ayam,” tuturnya.

Keberadaan “Kebun Tetangga” saat ini di lingkungan pesantren punya tantangan tersendiri. Terlebih di tengah gencar-gencarnya Pemerintah Kota Makassar mendorong pengolahan sampah berbasis warga. Mbak Wulan terus berupaya mengedukasi dan melibatkan langsung para santri memilah sampah. Namun, bukan perkara mudah untuk memastikan aksi-aksi santri berkesinambungan. “Tidak mudah mengelola mood anak-anak yang memang gampang berubah,” katanya.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: