Nurhabli Ridwan, Founder KPA GRAS Raih Juara I Wana Lestari Sumut 2026 Kategori Kader Konservasi Alam

Nurhabli Ridwan, Founder KPA GRAS Raih Juara I Wana Lestari Sumut 2026 Kategori Kader Konservasi Alam
Bacakan Artikel

Pengakuan dan Berbagai Prestasi

Dedikasinya di bidang konservasi mendapatkan pengakuan dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, yang menetapkannya sebagai Kader Konservasi Alam binaan sejak 2020.

Sejumlah penghargaan juga pernah diraih Nurhabli, antara lain Juara III Duta Konservasi Alam BBKSDA Sumatera Utara tahun 2019, Wisudawan Terbaik Green Leadership Indonesia Batch 1 tahun 2021, masuk 100 Besar Nasional Forest Youthverse 2025, serta menjadi PIC kelompok penerima manfaat pendanaan FOLU Net Sink 2030 melalui BPDLH, 

Pada tahun 2012, Nurhabli mewakili Sumatera Utara pada Lomba Kompetensi Siswa (LKS) SMK Tingkat Nasional Bidang Joinery. Ia juga menerima penghargaan donor darah 10 kali dari UTD PMI Kota Medan pada 2025.

Pada 2026, perjalanan panjang tersebut kembali memperoleh pengakuan melalui Penghargaan Juara 1 Wana Lestari Tingkat Provinsi Sumatera Utara kategori Kader Konservasi Alam dan mewakili Sumatera Utara pada penilaian Wana Lestari tingkat Nasional.

Penghargaan Bukan Tujuan Akhir

Di luar aktivitas lapangan, Nurhabli juga aktif menulis artikel dan opini mengenai lingkungan, konservasi, perubahan iklim, serta isu sosial kemanusiaan yang dipublikasikan di berbagai media lokal maupun nasional.

Baginya, tulisan merupakan sarana untuk meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus mengajak lebih banyak orang berpartisipasi dalam menjaga kelestarian alam.

Nurhabli mengungkapkan penghargaan Wana Lestari bukan semata-mata pencapaian pribadi, tetapi apresiasi terhadap kerja kolektif para pegiat lingkungan, komunitas pencinta alam, relawan, dan generasi muda yang selama ini bergerak menjaga alam.

“Penghargaan ini bukan akhir dari perjuangan. Justru menjadi pengingat bahwa masih banyak pekerjaan rumah dalam menjaga alam. Saya mempersembahkan penghargaan ini untuk GRAS, Genetika FP UISU, seluruh pegiat lingkungan, komunitas pencinta alam, generasi muda, dan masyarakat yang terus berjuang menjaga alam,” ujar Nurhabli.

Ia menilai tantangan lingkungan saat ini semakin kompleks, mulai dari kerusakan hutan, hilangnya habitat satwa, pencemaran lingkungan, perubahan iklim, hingga berbagai persoalan ekologis lainnya.

“Konservasi bukan hanya tentang menjaga hutan. Konservasi adalah bagaimana kita menjaga ekosistem, melindungi keanekaragaman hayati, membangun kesadaran masyarakat, dan memastikan generasi mendatang masih memiliki ruang hidup yang layak,” katanya.

Penghargaan Wana Lestari 2026 pun menjadi bagian dari perjalanan panjang seorang anak muda yang memilih jalan pengabdian melalui konservasi, kemanusiaan, dan pemberdayaan masyarakat.

Nurhabli berharap penghargaan tersebut dapat menjadi energi baru untuk memperkuat gerakan konservasi, khususnya di kalangan generasi muda.

“Penghargaan ini bukan garis akhir. Ini adalah pengingat bahwa masih banyak yang harus kita lakukan untuk alam. Selama alam masih membutuhkan kita, perjuangan konservasi harus terus berjalan,” pungkas Nurhabli.

 

Pilih Halaman: