Alfamart (AMRT) Raup Pendapatan Rp101T, Laba Naik 5,7% di Kuartal III
JALURDUA -
EmitenTrust.com - PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) membukukan laba bersih sebesar Rp2,56 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026, meningkat 5,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp2,42 triliun. Kenaikan laba tersebut sejalan dengan pertumbuhan pendapatan neto yang berhasil menembus Rp100 triliun. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian interim yang tidak diaudit per 30 September 2026, AMRT mencatatkan pendapatan neto sebesar Rp101,29 triliun, naik 7,21% dibandingkan Rp94,48 triliun pada periode Januari-September 2025. Seiring pertumbuhan pendapatan, beban pokok pendapatan perseroan turut meningkat 6,6% menjadi Rp79,09 triliun, dari sebelumnya Rp74,18 triliun. Meski demikian, pertumbuhan beban pokok pendapatan yang lebih rendah dibandingkan kenaikan pendapatan berhasil mendorong laba bruto AMRT meningkat 9,4% menjadi Rp22,20 triliun, dibandingkan Rp20,30 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Namun, beban operasional juga mengalami peningkatan. Beban penjualan dan distribusi naik 9,5% menjadi Rp18,13 triliun, dari sebelumnya sekitar Rp16,55 triliun. Sementara itu, beban umum dan administrasi meningkat 7,3% menjadi Rp1,83 triliun, dibandingkan sekitar Rp1,71 triliun pada September 2025. Dengan demikian, laba usaha AMRT tercatat sebesar Rp3,19 triliun, tumbuh sekitar 7,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari sisi bottom line, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp2,40 triliun, meningkat 3,8% dibandingkan Rp2,31 triliun pada sembilan bulan pertama 2025. Adapun laba yang diatribusikan kepada kepentingan nonpengendali tercatat sebesar Rp156,1 miliar, melonjak sekitar 47% dibandingkan Rp106 miliar pada periode sebelumnya. Sejalan dengan pertumbuhan laba, laba per saham AMRT meningkat menjadi Rp58,43, dibandingkan Rp55,75 pada September 2025. Meski demikian, terdapat tekanan pada total penghasilan komprehensif yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk. Angkanya justru turun sekitar 2,5% menjadi Rp2,21 triliun, dari sebelumnya Rp2,27 triliun. Penurunan tersebut dipengaruhi kerugian neto instrumen ekuitas yang dicatat melalui penghasilan komprehensif lain sebesar Rp189,8 miliar, jauh lebih besar dibandingkan Rp42,8 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Dari sisi neraca, total aset AMRT per 30 September 2026 tercatat sebesar Rp42,29 triliun, turun tipis sekitar 0,7% dibandingkan posisi akhir Desember 2025 sebesar Rp42,58 triliun. Penurunan terutama terjadi pada aset lancar yang menyusut menjadi Rp20,75 triliun, dibandingkan Rp21,92 triliun pada akhir 2025. Salah satu komponen yang mengalami penurunan cukup besar adalah kas dan setara kas. Posisi kas AMRT tercatat sebesar Rp3,57 triliun, merosot sekitar 24% dibandingkan Rp4,68 triliun pada akhir tahun lalu. Di sisi lain, persediaan justru meningkat menjadi Rp13,61 triliun, dibandingkan Rp13,35 triliun pada akhir 2025. Sementara itu, aset tidak lancar meningkat sekitar 4,2% menjadi Rp21,54 triliun. Komponen terbesarnya berasal dari aset tetap bersih sebesar Rp9,98 triliun dan aset hak guna sebesar Rp8,79 triliun. Dari sisi pendanaan, total liabilitas perseroan turun sekitar 2,1% menjadi Rp22,71 triliun, dibandingkan Rp23,20 triliun pada akhir Desember 2025. Liabilitas jangka pendek relatif stabil di kisaran Rp20,56 triliun. Namun, utang usaha kepada pihak ketiga mengalami penurunan menjadi Rp13,49 triliun, dari sebelumnya Rp14,16 triliun. Penurunan liabilitas terutama berasal dari liabilitas jangka panjang yang menyusut 18,6% menjadi Rp2,15 triliun, dibandingkan Rp2,64 triliun pada akhir 2025. Sementara itu, total ekuitas AMRT meningkat menjadi Rp19,58 triliun, dari sebelumnya Rp19,38 triliun. Namun, saham treasuri mengalami peningkatan cukup signifikan menjadi Rp812,5 miliar, dibandingkan Rp279,6 miliar pada akhir tahun lalu.