Tekanan Kota Tak Hentikan Perjuangan Masyarakat Pesisir Lantebung atas Ruang Mangrove dan Hak Kelola

Tekanan Kota Tak Hentikan Perjuangan Masyarakat Pesisir Lantebung atas Ruang Mangrove dan Hak Kelola
Bacakan Artikel

“Kami juga turut terdampak soal iklim, namun kami masih kurang mendapatkan akses informasi agenda kegiatan seperti ini, kami juga perlu dan bisa terlibat dalam berbagai kegiatan lingkungan,” tegas Syarif, menegaskan

Fatimah Al Batuul, Field Staff Blue Forests, berbagi pengalaman lapangan tentang rehabilitasi mangrove. Moderator Magfirah Ramadhani memandu diskusi agar tetap fokus dan interaktif.

Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia dan Blue Forests hadir sebagai mitra. Kolaborasi itu menunjukkan Hutan Merdeka VII tidak berdiri sendiri. Masalah perubahan iklim dan kerusakan ekosistem pesisir membutuhkan kerja sama lintas organisasi, komunitas, dan generasi.

Lantebung sudah lama dikenal sebagai kawasan mangrove. Ekowisata Mangrove Lantebung menawarkan keindahan sekaligus edukasi. Namun keindahan itu rentan. Abrasi, sampah, dan tekanan pembangunan terus mengancam. Penanaman dan aksi bersih dalam Hutan Merdeka VII menjadi langkah konkret menjaga kawasan tetap hidup. Setiap bibit yang ditanam hari ini diharapkan tumbuh menjadi pohon yang kelak melindungi pantai, menyerap karbon, dan menyediakan habitat bagi ikan, burung, serta biota lainnya.

Bagi generasi muda Lantebung, perubahan iklim bukan isu jauh. Dampaknya sudah terasa di rumah sendiri, banjir rob yang semakin sering, suhu yang semakin panas, dan hasil tangkapan nelayan yang mulai berkurang. Dengan menanam mangrove, mereka memilih menjadi bagian dari solusi.

Direktur YKL Indonesia Nirwan Dessibali menekankan bahwa tantangan terbesar adalah memastikan masyarakat pesisir tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi tetap menjadi subjek yang punya hak menentukan masa depan wilayahnya sendiri. 

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: