Hutan Lestari, Ekonomi Berdaya, BP2SDM Kemenhut Dorong Lahirnya Ecopreneur Muda Penggerak Masa Depan Konservasi KHDTK Tabo-Tabo

Hutan Lestari, Ekonomi Berdaya, BP2SDM Kemenhut Dorong Lahirnya Ecopreneur Muda Penggerak Masa Depan Konservasi KHDTK Tabo-Tabo
Bacakan Artikel
Proses legalitas usaha juga digarap serius. Klinik perizinan digelar bersama Sekretaris DPMPTSP Kabupaten Pangkep, Hamsah. Kelompok dibimbing membuat hak akses OSS, menyelaraskan kode KBLI sektor pariwisata dan kehutanan, hingga menerbitkan Nomor Induk Berusaha. Hamsah menegaskan kesiapan dinas mendampingi.

“Silahkan datang ke kantor, kami punya tenaga pendampingan untuk masyarakat yang melakukan pengurusan,” ujarnya.

Ia mencatat bahwa kendala yang sering muncul adalah kelengkapan berkas dari pemohon sendiri dan gangguan jaringan sistem pusat. Untuk izin berisiko rendah, proses relatif sederhana jika dokumen lengkap.

“Kalau misalnya berkas yang diperlukan itu lengkap yamg dia bawa, saya rasa nggak ada masalah lagi,” katanya.

Materi kewirausahaan disampaikan Almujahid Akmal, praktisi wirausaha sosial ini membahas penyusunan rencana edu-ekowisata ke dalam unit usaha koperasi dan perhitungan harga pokok penjualan paket wisata yang memanfaatkan bantuan alat produktif.

Sesi ini membekali kelompok agar tidak hanya memiliki peralatan, tetapi juga kemampuan mengelola usaha secara terukur. Perhitungan HPP menjadi penting agar paket yang ditawarkan kepada wisatawan atau kelompok sekolah tidak merugikan pengelola, sekaligus tetap kompetitif.

Akmal, sapaan akrabnya, juga mengemukakan bahwa membangun usaha sosial memerlukan keseriusan dalam mendampingi para pelaku, tak hanya keseriusan tapi juga waktu yang panjang untuk menghadapi berbagai tantangan yang ada.

Untuk memudahkan hal tersebut Akmal membagikan dan akan mendampingi para peserta memahami dan menuangkan ide dalam Business Model Canvas (BMC), yang merupakan instrumen strategis yang sangat krusial bagi wirausaha sosial karena memberikan kerangka kerja visual untuk menyelaraskan dua pilar utama secara bersamaan, penciptaan dampak sosial yang berkelanjutan dan kemandirian finansial.

Tanpa pemetaan yang jelas melalui BMC, wirausaha sosial berisiko mengalami mission drift akibat terlalu fokus mengejar keuntungan, atau sebaliknya, mengalami kebangkrutan operasional (non-profit trap) karena terlalu berfokus pada aksi sosial tanpa model bisnis yang terukur.

BMC disebut secara efektif memisahkan sekaligus menghubungkan strategi antara penerima manfaat (beneficiaries) dan pelanggan pembayar (paying customers), sehingga organisasi dapat memetakan proposisi nilai, struktur biaya, serta saluran distribusi yang efisien.

Dengan kemudahan iterasi dan fleksibilitas yang ditawarkannya, BMC tidak hanya meminimalisasi risiko kegagalan operasional di tingkat awal, tetapi juga menjadi alat komunikasi yang sangat persuasif untuk meyakinkan impact investor dan mitra strategis mengenai keberlanjutan dampak serta arus kas bisnis tersebut.

Dukungan alat yang beragam 

Alat yang diserahkan dibagi sesuai lima spot tematik. Spot Camping Ground menerima tenda, flysheet, sleeping bag, matras, pallet plastik, senter, head lamp, dan lampu camping. Spot Sekolah Alam mendapat binokuler, loop, jaring serangga, buku panduan lapangan untuk burung, primata, kupu-kupu, dan pohon endemik, serta meja portable. Spot Trekking Forest Healing dilengkapi binokuler, kamera profesional EOS RP, tandu portable, alat P3K standar, dan panel barcode pohon. Spot Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu mendapat peralatan sadap aren, panen madu lebah dorsata dan trigona, alat panjat, mesin vacuum sealer, spinner peniris minyak, serta perlengkapan pengolahan gula aren dan madu. Spot Wisata Religi dan Budaya menerima handy talkie dan perangkat pengeras suara TOA.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: