Hutan Lestari, Ekonomi Berdaya, BP2SDM Kemenhut Dorong Lahirnya Ecopreneur Muda Penggerak Masa Depan Konservasi KHDTK Tabo-Tabo

Hutan Lestari, Ekonomi Berdaya, BP2SDM Kemenhut Dorong Lahirnya Ecopreneur Muda Penggerak Masa Depan Konservasi KHDTK Tabo-Tabo
Bacakan Artikel
Keberadaan alat-alat itu membuka peluang paket wisata yang lebih lengkap, camping, pembelajaran alam untuk siswa, trekking healing, pengolahan produk HHBK, hingga kegiatan religi dan budaya. Potensi bentang alam KHDTK Tabo-Tabo air terjun, jalur tracking, dan pemandangan dari puncak bukit yang sudah lama dikenal.

Yang belum optimal adalah pengelolaan terstruktur oleh generasi muda setempat dengan legalitas usaha yang jelas. Dengan peralatan sadap aren dan pengolahan madu, kelompok bisa meningkatkan nilai tambah produk yang selama ini sering dijual dalam bentuk mentah. Gula aren, misalnya, bisa diolah lebih lanjut, sementara madu bisa dikemas dengan vacuum sealer agar daya simpan lebih panjang.

Pengembangan seperti ini membutuhkan dukungan berkelanjutan dari pemerintah daerah. Perbaikan akses jalan menjadi salah satu kebutuhan mendesak. Tanpa akses yang layak, wisatawan atau kelompok sekolah akan berpikir dua kali untuk datang. Promosi terpadu juga diperlukan.

Dinas terkait bisa membantu pembuatan brosur, konten digital, atau integrasi dengan agenda pendidikan formal. Pendampingan kelembagaan koperasi tentu bisa lebih jauh mendukung setelah NIB terbit. Penguatan kapasitas pengurus, pencatatan keuangan sederhana, dan pemasaran produk menjadi tahap berikutnya yang sama pentingnya.

Di sisi lain, model di Tabo-Tabo memberikan contoh konkret bagaimana target nasional FOLU Net Sink 2030 bisa dijabarkan di tingkat desa. Menjaga hutan tidak hanya berarti melarang aktivitas, tetapi menciptakan insentif ekonomi bagi masyarakat sekitar agar mereka memiliki alasan kuat untuk merawat kawasan. Ketika pemuda desa menjadi pengelola resmi edu-ekowisata, pengawasan informal terhadap praktik yang merusak juga cenderung lebih efektif. Mereka yang sehari-hari berada di lapangan lebih cepat mendeteksi perubahan kondisi hutan.

Tantangan tetap ada. Koperasi yang baru terbentuk masih harus membuktikan kemampuan mengelola usaha secara berkelanjutan. Kualitas layanan, keamanan pengunjung, dan konsistensi produk HHBK akan menentukan apakah wisatawan kembali datang.

Keterlibatan penyuluh kehutanan menjadi penting untuk memastikan bahwa setiap aktivitas tetap berada dalam koridor konservasi. Kolaborasi dengan pemerintah desa dan dinas terkait juga perlu dijaga agar tidak hanya muncul pada saat serah terima alat, tetapi berlanjut dalam bentuk dukungan rutin.

Kisah di KHDTK Tabo-Tabo menunjukkan pergeseran pendekatan. Generasi muda tidak hanya diajak menjaga hutan, tetapi diberi ruang untuk menjadi pelaku usaha di dalam dan sekitar kawasan. Mereka menyusun rencana sendiri, mendapat alat sesuai kebutuhan, dan didampingi dalam urusan legalitas. Jika dukungan infrastruktur dan kelembagaan terus hadir, model ini berpotensi mereplikasi di kawasan serupa. Hutan tetap hijau, air tetap mengalir, dan anak-anak muda desa punya alasan untuk tinggal serta mengembangkan potensi di kampung halaman mereka sendiri.

Kamaruddin berulang kali menekankan prinsip dasar yang sama, nilai ekonomi boleh tumbuh, tetapi nilai edukasi dan konservasi tidak boleh hilang. Di tengah target nasional FOLU Net Sink 2030, langkah kecil di Tabo-Tabo ini menjadi pengingat bahwa pelestarian hutan yang efektif adalah yang melibatkan generasi muda sebagai pemilik masa depan kawasan itu.

Pilih Halaman: